Kemarau Ekstrem Pangkas Debit Mata Air 65 Persen, 41 Ribu Pelanggan PDAM Lombok Timur Terdampak

Table of Contents


RNN.com - 
LOMBOK TIMUR – Musim kemarau mulai menekan ketersediaan air bersih di Kabupaten Lombok Timur. Sebanyak 24 sumber mata air yang dikelola PDAM Lombok Timur mengalami penyusutan debit, dengan penurunan secara keseluruhan diperkirakan mencapai 65 persen. Kondisi ini memaksa perusahaan menerapkan pola distribusi bergilir bagi sekitar 41 ribu pelanggan, Sabtu (10/10/2026).

Direktur Utama PDAM Lombok Timur, Sopyan Hakim, mengungkapkan bahwa penurunan debit terjadi di hampir seluruh sumber air yang menjadi penopang pelayanan perusahaan. Berkurangnya pasokan tersebut membuat pendistribusian air ke pelanggan tidak bisa lagi dilakukan secara normal.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, PDAM melakukan rekayasa jaringan dengan membagi waktu penyaluran air ke sejumlah wilayah. Langkah ini ditempuh agar keterbatasan pasokan dapat dibagi secara merata dan pelanggan di berbagai kawasan tetap memperoleh layanan.

Sopyan menjelaskan, perubahan kondisi sumber mata air terlihat dari perbandingan debit sebelum dan selama kemarau. Sumber yang sebelumnya mampu menghasilkan air hingga 250 liter per detik maupun 100 liter per detik kini mengalami penurunan cukup signifikan.

Bahkan, salah satu sumber yang biasanya menghasilkan sekitar 100 liter per detik kini hanya mampu menyediakan kurang lebih 30 persen dari kapasitas normalnya.

“Dari 24 sumber mata air kita, hampir seluruhnya mengalami penurunan yang drastis. Karena itu kami melakukan rekayasa jaringan dengan sistem bergilir,” ujar Sopyan Hakim.

Akibat berkurangnya ketersediaan air, sekitar 41 ribu pelanggan masuk dalam cakupan pelayanan yang terdampak. Wilayah perkotaan Selong juga menjadi bagian dari jaringan pelayanan PDAM yang harus menyesuaikan distribusi dengan kondisi pasokan, meskipun situasinya dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah kawasan lainnya.

Dalam skema penggiliran yang diterapkan, suatu wilayah dapat menerima aliran air selama kurang lebih dua hari sebelum pasokan dialihkan ke kawasan lain. Pola tersebut disesuaikan untuk menghindari penumpukan distribusi di satu lokasi ketika wilayah lainnya justru kekurangan air.

Menurut Sopyan, pembagian distribusi menjadi pilihan yang harus dilakukan agar keterbatasan air tidak menyebabkan sebagian wilayah kehilangan akses sepenuhnya. Jika penyaluran hanya dipusatkan pada satu kawasan, pelanggan di wilayah lain berisiko tidak memperoleh pasokan.

Sejumlah daerah yang mengalami dampak penurunan debit di antaranya Sikur, Terara, Sakra, dan Masbagik. Pelayanan di kawasan yang lebih jauh, termasuk Jerowaru dan Sambelia, juga menjadi perhatian PDAM dalam upaya menjaga jangkauan distribusi air bersih.

“Wilayah-wilayah terjauh seperti Jerowaru, Sakra dan Sambelia kita lakukan pelayanan itu. Kalau Selong masih relatif aman,” jelasnya.

PDAM Lombok Timur kini harus mengoptimalkan jaringan distribusi di tengah terbatasnya ketersediaan air baku. Sistem penyaluran bergilir menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan pelayanan bagi puluhan ribu pelanggan selama kondisi kemarau masih memengaruhi debit sumber mata air.(red)

GJI