Polri Dorong Sembalun Jadi Motor Swasembada Bawang Putih Nasional

Table of Contents

RNN.com - 
LOMBOK TIMUR – Upaya mengembalikan kejayaan produksi bawang putih nasional terus digenjot pemerintah bersama Polri. Kawasan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), diproyeksikan menjadi salah satu sentra utama dalam program percepatan swasembada komoditas tersebut.

Komitmen itu ditandai dengan kegiatan penanaman dan panen raya bawang putih di Sembalun yang turut dihadiri Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolri memberikan pin emas kepada Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dan Bupati Lombok Timur Haerul Warisin. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan pemerintah daerah terhadap program percepatan swasembada bawang putih.

Listyo Sigit mengatakan, tantangan terbesar saat ini adalah mengembalikan kemampuan Indonesia dalam memproduksi bawang putih secara mandiri. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada konsistensi seluruh pihak dalam mengembangkan lahan, benih unggul, hingga pendampingan kepada petani.

Ia berharap hasil penelitian dan penggunaan bibit berkualitas yang diterapkan dalam musim tanam tahun ini mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.

“Ini menjadi tantangan bagaimana kita membangkitkan kembali kejayaan bawang putih dan mengulang keberhasilan panen raya yang pernah terjadi puluhan tahun lalu,” ujar Listyo Sigit.

Program tersebut dijalankan secara serentak melalui jajaran kepolisian di 14 Polda. NTB menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi terbesar, dengan areal sekitar 120 hektare dan potensi produksi mencapai 1.200 ton.

Khusus di Sembalun, panen yang berlangsung menghasilkan sekitar 105 ton dari sembilan kelompok tani. Sementara potensi keseluruhan produksinya diperkirakan dapat mencapai 150 ton.

Kakorbinmas Polri Irjen Pol Mardiono mengatakan keterlibatan Polri tidak hanya sebatas fasilitator, tetapi juga mencakup pengawalan proses budidaya hingga masa panen. Langkah tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan.

Ia menyebut Indonesia sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam produksi bawang putih. Karena itu, pengalaman petani dan potensi lahan yang tersedia dinilai menjadi modal penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

“Satgas akan terus mendampingi dan mengawal sampai panen. Harapannya produksi dalam negeri meningkat sehingga target swasembada bawang putih dapat tercapai,” kata Mardiono.

Kapolda NTB Irjen Pol R. Umar Kalingga menambahkan, pengembangan bawang putih di Sembalun telah dilakukan bersama kelompok tani sejak 2025. Pada tahap awal, lahan yang digarap mencapai 15 hektare.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi lahan sekitar 604 hektare. Pengembangan lahan kemudian terus diperluas melalui penanaman bertahap hingga mencapai ratusan hektare.

Dengan asumsi produktivitas sekitar 10 ton per hektare, pengembangan kawasan tersebut berpotensi menghasilkan hingga 1.500 ton bawang putih.

Selain pengembangan areal tanam, petani juga mendapat dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan produksi, pengelolaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga pembangunan gudang untuk mendukung penyimpanan hasil panen.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sekitar Rp55,65 miliar untuk memperkuat pengembangan bawang putih di Sembalun. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung perluasan area tanam sekaligus meningkatkan fasilitas produksi yang dibutuhkan petani.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ketersediaan benih menjadi salah satu faktor penting dalam mengejar peningkatan produksi. Pemerintah akan berupaya memenuhi kebutuhan benih dari produksi dalam negeri, namun opsi impor tetap terbuka apabila pasokan nasional belum mencukupi.

“Benih kami upayakan untuk mendukung produksi. Kalau ketersediaan dalam negeri kurang, kami upayakan impor,” kata Amran saat berada di Sembalun, Rabu (19/8/2026).

Kebutuhan peningkatan produksi dinilai mendesak karena konsumsi bawang putih nasional masih jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan produksi domestik. Saat ini produksi dalam negeri berada di kisaran 39 ribu hingga 40 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 600 ribu ton.

Kondisi tersebut membuat ketergantungan Indonesia terhadap impor masih sangat tinggi, yakni sekitar 90 hingga 95 persen.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai Sembalun memiliki keunggulan alam yang mendukung pengembangan bawang putih. Kondisi dataran tinggi, suhu yang relatif sejuk, serta paparan sinar matahari dinilai sesuai dengan karakteristik tanaman tersebut.

“Tanaman bawang putih membutuhkan suhu dingin dan sinar matahari yang cukup. Kondisi seperti itu tersedia di dataran tinggi Sembalun,” ujar Zulhas.

Menurutnya, kemampuan petani lokal yang telah membudidayakan bawang putih secara turun-temurun menjadi modal penting. Dengan dukungan benih unggul, pupuk, teknologi, serta sarana produksi, produktivitas kawasan tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan.

Program pengembangan bawang putih di Sembalun sendiri merupakan bagian dari agenda ketahanan pangan yang mencakup potensi lahan sekitar 2.593,1 hektare di 17 provinsi. Rangkaian kegiatan tersebut juga mencakup peresmian gudang ketahanan pangan Polri.

Pemerintah berharap pengembangan sentra produksi baru, khususnya di wilayah yang memiliki kondisi agroklimat sesuai seperti Sembalun, mampu mempersempit kesenjangan antara kebutuhan dan produksi nasional.

Jika pengembangan lahan, ketersediaan benih, pendampingan petani, serta dukungan sarana produksi berjalan konsisten, Sembalun diharapkan tidak hanya menjadi sentra bawang putih NTB, tetapi juga salah satu penggerak utama Indonesia untuk kembali mencapai swasembada komoditas tersebut.(win)

GJI