Mahasiswa Unram Asal Masbagik Cetak Prestasi di Ajang HIPMI NTB, Tawarkan Inovasi Pakan Ternak Ramah Lingkungan

Table of Contents

RNN.com - 
Mataram – Kreativitas mahasiswa muda asal Kecamatan Masbagik kembali mencuri perhatian di tingkat regional. Tiga mahasiswa Universitas Mataram, yakni Muhamad Dicky Subagia, Aryanto Arbi, dan Zidni Ilman, sukses meraih peringkat ketiga dalam kompetisi Business Plan yang digelar oleh HIPMI NTB melalui gagasan usaha berbasis peternakan berkelanjutan.

Ajang tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi serta komunitas wirausaha muda di Nusa Tenggara Barat. Sebelum memasuki tahap presentasi, seluruh tim diwajibkan mengirim proposal bisnis untuk dinilai berdasarkan inovasi, peluang usaha, keberlanjutan, hingga dampak sosial yang ditawarkan.

Dari puluhan proposal yang masuk, hanya sepuluh tim terbaik yang berhasil melangkah ke sesi pemaparan ide bisnis. Tim mahasiswa asal Masbagik menjadi salah satu finalis yang tampil mempresentasikan konsep usahanya di hadapan dewan juri profesional dalam kegiatan yang berlangsung di Camoris Coffee & Resto, Pagutan, Kota Mataram, pada 9 Mei 2026.

Persaingan yang berlangsung ketat akhirnya membawa ketiga mahasiswa tersebut masuk ke babak final bersama dua tim lainnya. Puncak kompetisi digelar di Prime Plaza Hotel Mataram pada 13 Mei 2026 dengan menghadirkan investor dan pelaku usaha yang turut menyaksikan pemaparan para finalis.

Dalam presentasinya, mereka memperkenalkan inovasi bertajuk “KroHerb”, yakni pelet pakan ternak berbahan dasar kroto dan campuran herbal alami yang dirancang untuk mendukung sistem peternakan sehat dan berkelanjutan.

Ide tersebut lahir dari keresahan terhadap tingginya penggunaan pakan sintetis dan antibiotik pada sektor peternakan. Menurut mereka, ketergantungan terhadap bahan kimia dalam jangka panjang dapat memicu resistensi antimikroba yang berdampak buruk bagi kesehatan hewan maupun lingkungan.

Melalui KroHerb, mereka mencoba menawarkan alternatif pakan yang lebih alami, ekonomis, dan mudah dikembangkan oleh masyarakat. Sebelum dijadikan model bisnis, tim tersebut juga telah melakukan riset awal mengenai potensi kroto sebagai sumber protein alternatif yang dikombinasikan dengan bahan herbal seperti kunyit, jahe, dan daun kelor.

Ketiga bahan herbal itu dipilih karena dikenal memiliki kandungan nutrisi dan senyawa aktif yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak. Daun kelor misalnya, dinilai kaya protein, vitamin, dan mineral sehingga berpotensi menjadi bahan pendukung pakan berkualitas tinggi.

Konsep bisnis yang mereka bangun ternyata mendapat respons positif dari para investor. Dalam sesi final, beberapa investor menyampaikan ketertarikannya untuk mendukung pengembangan pabrik pakan KroHerb sekaligus kawasan eko-eduwisata berbasis masyarakat.

Muhamad Dicky Subagia menjelaskan bahwa gagasan tersebut tidak hanya fokus pada keuntungan bisnis, tetapi juga diarahkan untuk membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal masyarakat sekitar.

Ia menyebut, konsep eko-eduwisata nantinya akan menggabungkan budidaya semut rangrang, kebun produktif, hingga proses produksi pakan herbal dalam satu kawasan edukatif yang bisa dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran sekaligus pengembangan usaha masyarakat.

Keberhasilan ketiga mahasiswa tersebut menjadi bukti bahwa inovasi berbasis riset dari generasi muda daerah mampu bersaing dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi solusi nyata bagi sektor pertanian dan peternakan di masa depan.(red)

GJI