Bupati Haerul Warisin Minta Petugas SE 2026 Jaga Akurasi Data, BPS NTB Tekankan Target Indonesia Emas 2045
RNN.com - Lombok Timur — Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menegaskan bahwa keberhasilan Sensus Ekonomi (SE) 2026 sangat bergantung pada ketelitian dan integritas petugas pengumpul data di lapangan. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Selong, Jumat (29/5/2026).
Dalam arahannya, Bupati menyebut para petugas sensus memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menyediakan data ekonomi yang nantinya menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan pemerintah. Karena itu, ia meminta seluruh petugas bekerja secara sungguh-sungguh, tidak hanya sekadar mencatat, tetapi juga memastikan setiap informasi yang dihimpun benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Para pendata ini adalah ujung tombak yang akan membenarkan cara-cara pemerintah ke depan melakukan pembangunan. Karena itu data yang disajikan harus betul-betul benar,” tegasnya.
Haerul Warisin juga mengingatkan agar proses pendataan dilakukan langsung di lapangan. Ia menekankan tidak boleh ada pendataan yang hanya mengandalkan pihak ketiga atau informasi tidak langsung, sebab hal tersebut dapat memengaruhi kualitas data yang dihasilkan.
Menurutnya, petugas harus melakukan pengamatan secara cermat sebagai bagian dari proses verifikasi. Langkah tersebut penting karena data yang dihasilkan Badan Pusat Statistik (BPS) selama ini menjadi salah satu rujukan utama pemerintah dalam merancang berbagai program pembangunan.
“Pengambilan data dilakukan dengan cermat dan benar. Tidak ada cerita-cerita, tetapi langsung turun ke lapangan dan diamati juga,” pesannya.
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi NTB, H. Wahyudin, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa SE 2026 memiliki peran strategis dalam mendukung perencanaan pembangunan nasional. Ia menilai data ekonomi yang valid dan berkualitas akan menjadi fondasi penting menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Wahyudin menegaskan BPS berkomitmen menghasilkan data yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berdampak dan bermanfaat bagi pembangunan. Oleh sebab itu, ia meminta para petugas sensus memahami tugasnya dengan baik serta mampu menyelesaikan pendataan sebelum batas waktu yang ditentukan.
Ia juga mengingatkan adanya tahapan lanjutan setelah pendataan, termasuk penanganan data anomali yang akan direviu setiap pekan. Data anomali tersebut harus dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari agar proses berikutnya tidak terhambat.
“Kita berharap bapak-ibu dapat melaksanakan pendataan tuntas sebelum waktu yang telah ditentukan, karena sekarang ini kita serba cepat. Setiap minggu ada data anomali dan ini harus diselesaikan dalam tiga hari,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wahyudin juga meminta seluruh peserta pelatihan mengikuti materi dengan serius. Ia mendorong peserta aktif berdiskusi dengan instruktur, terutama terkait kemungkinan kasus-kasus yang dapat muncul saat melakukan pendataan di wilayah masing-masing.
Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Lombok Timur diikuti sebanyak 1.336 peserta yang terbagi ke dalam 34 kelas dan lima gelombang. Kegiatan tersebut melibatkan 17 instruktur daerah dan dijadwalkan berlangsung hingga 13 Juni mendatang.
Melalui pelatihan ini, para petugas diharapkan memiliki pemahaman yang baik terhadap standar operasional prosedur, metodologi, konsep pendataan, serta teknis pelaksanaan SE 2026. Dengan demikian, pelaksanaan sensus dapat menghasilkan tenaga pendata yang teliti, berintegritas, dan mampu menyajikan data ekonomi yang andal.
Pembukaan pelatihan tersebut turut dihadiri Kepala BPS Lombok Timur, Sekretaris Daerah Lombok Timur, sejumlah pimpinan OPD, serta para instruktur daerah.(win)
