Dari Musholla ke Masa Depan: 36 Anak Antusias Ikuti Kelas Sore “Berani Cahaya” di Terara

Table of Contents

RNN.com - 
Lombok Timur – Inisiatif sederhana yang digagas dua mahasiswi di Dusun Kebon Daya, Desa Terara, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, berhasil menarik perhatian warga. Program belajar sore bertajuk Berani Cahaya resmi bergulir pada Senin, 23 Februari 2026, dan langsung diikuti puluhan anak.

Kegiatan yang dipusatkan di Musholla Bustanul Arifin itu menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk memperoleh pendampingan belajar di luar jam sekolah. Sebanyak 36 peserta dari jenjang TK hingga SMP tercatat hadir pada pertemuan perdana. Jumlah tersebut bahkan melampaui perkiraan para penggagasnya.

Program ini diinisiasi oleh Nuri Zaerani dan Linda Wahyuni. Berawal dari keprihatinan melihat anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu luang tanpa aktivitas edukatif, keduanya bersepakat menghadirkan wadah pembinaan yang terbuka dan mudah dijangkau.

Pembelajaran yang diberikan tidak terbatas pada materi akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mencakup pendidikan agama serta pembentukan karakter. Uniknya, kegiatan ini turut melibatkan siswi SMA setempat sebagai pendamping. Konsep tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan sekaligus rasa tanggung jawab di kalangan remaja perempuan.

Ketua RT Kebon Daya, Endi, menyampaikan apresiasinya terhadap gerakan tersebut. Ia menilai kehadiran kelas sore ini menjadi energi baru bagi lingkungan dusun. Menurutnya, dukungan masyarakat sangat penting agar kegiatan semacam ini dapat terus berjalan dan memberi dampak jangka panjang.

Sementara itu, Linda Wahyuni menjelaskan bahwa ide mendirikan ruang belajar ini muncul dari kebutuhan nyata di lapangan. Ia berharap program tersebut mampu menjadi wadah yang tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian anak-anak untuk berkembang.

Hal senada disampaikan Nuri Zaerani. Ia menekankan pentingnya peran remaja sebagai agen perubahan di lingkungan sendiri. Dengan dilibatkan sebagai pendamping, para siswi SMA diharapkan terbiasa mengambil peran aktif dalam membimbing adik-adiknya.

Meski sambutan masyarakat cukup besar, para penggagas berharap dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa, terutama terkait fasilitas dan penguatan program. Mereka meyakini, kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar inisiatif ini tidak berhenti sebagai gerakan sesaat.

Kehadiran Berani Cahaya menjadi bukti bahwa langkah kecil yang dimulai dari kepedulian dapat menghadirkan dampak nyata. Dari sebuah musholla di Dusun Kebon Daya, semangat belajar dan keberanian generasi muda mulai tumbuh bersama.(win)

GJI