Lombok Timur Perkuat Hilirisasi Porang untuk Tingkatkan Nilai Ekspor

Table of Contents

RNN.com
- Lombok Timur – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tengah gencar mempercepat pertumbuhan sektor pertanian dengan menempatkan tanaman porang sebagai komoditas strategis baru yang berpotensi besar dalam menopang perekonomian daerah. Melalui pendekatan hilirisasi industri, porang kini diarahkan tidak hanya sebagai hasil panen mentah, tetapi juga sebagai produk olahan bernilai tambah tinggi yang siap menembus pasar ekspor.

Menurut Sekretaris Dinas Perindustrian Kabupaten Lombok Timur, Lalu Alwan Wijaya, budidaya porang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keterbatasan lahan dan ketersediaan bahan baku. “Berdasarkan data terakhir, total lahan yang digunakan untuk menanam porang hanya sekitar 28 hektar. Ada kemungkinan luasnya mencapai 281 hektar, tetapi sebagian besar sudah tidak lagi produktif. Dengan kondisi ini, tentu masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri yang mencapai 80 ton per hari,” jelasnya.

Sebagai langkah solutif, Pemkab Lombok Timur membangun sinergi lintas wilayah dengan menggandeng kabupaten lain di Nusa Tenggara Barat seperti Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Sumbawa. Dukungan dari Pemerintah Provinsi NTB juga telah diminta secara resmi untuk menjamin kelancaran suplai bahan baku. “Kami yakin, dengan kolaborasi antar daerah, kuota 80 ton per hari dapat terpenuhi. Bahkan jika diperlukan, kami siap menerima pasokan dari luar provinsi,” ujar Alwan optimis.

Langkah konkret dari program hilirisasi ini pun mulai terwujud dengan beroperasinya pabrik pengolahan porang di Lombok Timur, yang dikelola oleh mitra swasta PT. Sanindo Pangan Rinjani. Pabrik tersebut dijadwalkan aktif mulai minggu depan dan dirancang untuk mampu memproduksi tepung porang dalam skala ekspor. “Kesepakatan kerja sama telah ditandatangani. Jika pasokan bahan baku lancar, pabrik bisa melakukan pengiriman hasil produksi hingga tiga kali dalam satu bulan,” terangnya.

Pabrik ini akan mengubah porang mentah menjadi tepung glukomanan yang merupakan bahan penting dalam berbagai industri, mulai dari pangan, kosmetik, hingga farmasi. Lonjakan harga porang mentah yang kini mencapai Rp8.000 per kilogram, naik signifikan dari harga sebelumnya yang berkisar antara Rp2.500 hingga Rp4.000, menjadi sinyal positif bagi para petani. “Permintaan pasar semakin tinggi. Porang bukan hanya untuk konsumsi, tapi juga digunakan dalam pembuatan obat, bahan tambahan makanan, bahkan produk kecantikan,” tambah Alwan.

Tiongkok menjadi tujuan utama ekspor produk olahan porang dari Lombok Timur. Meskipun produk yang dikirim masih berupa bahan setengah jadi, keberadaan pabrik ini merupakan tonggak penting dalam memutus ketergantungan terhadap pasar luar daerah, serta meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.

Tak hanya berhenti pada pengolahan, PT. Sanindo Pangan Rinjani juga berkomitmen untuk memberikan pendampingan kepada para petani dan pelaku IKM di Lombok Timur, mulai dari pelatihan teknik budidaya yang baik hingga pengolahan pascapanen. “Kami ingin membangun ekosistem industri porang dari hulu ke hilir. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar perwakilan perusahaan.

Upaya hilirisasi ini diharapkan tidak hanya menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat posisi petani dalam rantai pasok. Pemerintah daerah optimistis bahwa dalam waktu dekat, Lombok Timur bisa menjadi salah satu pusat industri porang nasional yang berdaya saing tinggi.

“Dengan adanya pabrik ini, kita tidak lagi hanya menjadi penghasil bahan mentah. Ini adalah awal dari transformasi ekonomi daerah berbasis potensi lokal yang berkelanjutan,” tutup Alwan.(win)

GJI